Tiga Manfaat Menjadi Multilingual

Tahukah anda bahwa rata-rata penduduk Indonesia itu menguasai lebih dari satu bahasa? Ya anda tidak salah, dengan memiliki lebih dari satu bahasa kita memiliki peluang untuk mengerti lebih dari satu bahasa. Paling tidak dua bahasa, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah.

Kemungkinan ini sangat besar apalagi didukung dengan keragaman etnis dan budaya diantara penduduk Indonesia. Misalnya banyak anggota keluarga yang berasal dari etnis yang berbeda, bahkan memungkinkan dalam satu keluarga ada lebih dari satu bahasa daerah. Misalnya bapaknya orang Padang menikah dengan ibu Sunda, atau Batak dengan Jawa dan banyak lagi. Intinya kita memiliki kemungkinan untuk menikmati banyak bahasa.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});


Namun di dalam kehidupan kita sehari-hari tidak jarang kita menemukan orang tua yang tidak menurunkan bahasa daerahnya kepada anak dengan berbagai alasan. Misalnya karena alasan ribet dan sulit untuk menerapkan banyak bahasa dalam satu rumah, hingga mungkin alasan yang sepertinya lebih keren yaitu cinta bahasa nasional atau takut anaknya bicara kasar dan jorok dalam bahasa daerah.

Namun tahukah anda bahwa mengajarkan dan menguasai banyak bahasa sebetulnya memberikan keuntungan? Salah satu penelitian dari para ahli neurosains menemukan bahwa mempelajarai bahasa sebetulnya memiliki banyak keuntungan.

Klasifikasi Multilingual

Kemampuan bahasa biasanya diukur dengan dua kategori yaitu aktif dan pasif. Kemampuan berbahasa aktif diwakili dengan kemahiran dalam berbicara dan menulis dalam bahasa yang dimaksud. Sementara kemampuan pasif diwakili dengan kemahiran dalam membaca dan mendengarkan.

Secara teori bisa saja seorang yang mempelajarai bahasa memiliki kemampuan yang sama baiknya dalam hal kemampuan aktif atau kemampuan pasif. Meskipun tentu derajat kemampan berbahasa seseoarang akan bervariasi antara satu dengan yang lain.

Namun secara garis besar, kemampuan multilingual ini bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Compound Bilingual.  Orang yang memiliki kemampuan bahasa seperti ini memahami berbagai bahasa sebagau satu kesatuan konsep. Ia mampu mengembangkan kemampuan dua atau lebih bahasa secara simultan bersamaan karena mempelajarinya sejak awal secara bersamaan. Biasanya yang masuk dalam kategori ini adalah anak-anak yang tumbuh dan langsung mempelajari dua atau lebih bahasa secara bersamaan. Ia terbiasa berbicara dan berpikir dengan dua atau lebih bahasa sedari kecil.
  2. Coordinate Bilingual. Kategori ini memahami berbagai bahasa sebagai dua konsep yang berbeda. Misalnya ia sudah punya pengetahuan awal tentang satu bahasa kemudian ia mempelajari bahasa kedua atau ketiga dengan menggunakan logika bahasa pertama sebagai dasar. Sebagai contoh adalah seorang anak yang belajar dan berinteraksi satu bahasa di sekolah dan mempraktekkan bahasa lain saat di rumah dengan orang tua dan teman-temannya.
  3. Subordinate Bilingual. Kategori ini adalah yang mempelajari bahasa kedua atau ketiga sebagai bahasa baru dengan memakai logika bahasa yang sebelumnya. Biasanya ini adalah orang dewasa yang mempelajari bahasa baru dengan pendekatan yang berbeda sama sekali.
Baca juga  Penting!! Empat Dampak Negatif Gadget Pada Anak

Ketiga kategori bilingual ini bisa saja menguasai berbagai bahasa tersebut dengan fasih. Meskipun proses internalisasi kemampuan bahasa ini akan berpengaruh terhadap kefasihan dan kemampuan menggunakannya tergantung praktek dan lamanya belajar.

Anak yang belajar dua bahasa sejak kecil tentu akan lebih fasih menggunakan kedua bahasa daripada orang tua yang baru belajar setelah dewasa. Namun bagi orang awam perbedaannya tidak akan terlihat sama sekali.

 

Bilingualisme Memberi Akses Ke Banyak Budaya

Menguasai dua bahasa atau lebih memberikan banyak kelebihan. Salah satunya adalah memiliki akses terhadap budaya yang berbeda. Karena bahasa adalah produk budaya yang kaya akan nilai-nilai.

Contoh sederhana adalah keragaman perspektif dan kekayaan kosa kata. Di media sosial bisa kita temukan banyak sekali meme yang menunjukkan kayanya bahasa daerah. Salah satunya adalah kata jatuh dalam bahasa sunda yang sempat viral di berbagai situs medsos.

Jatuh dalam Banyak Bahasa 1024x473 - Tiga Manfaat Menjadi Multilingual

Bayangkan satu kata dalam bahasa Indonesia bisa diungkapkan dengan puluhan bahkan ratusan padanan kata yang memiliki arti sama tapi dengan artikulasi, penjelasan dan penekanan makna yang berbeda. Dalam berinteraksi kita akan merasa dekat jika seseorang berbicara dalam bahasa yang sama dengan kita. Nah salah satu fungsi ini bisa kita nikmati jika bisa menguasai bahasa asing atau bahasa lain.

Baca juga  6 Hikmah Pernikahan Yang Perlu Diketahui

Beda bahasa juga akan memberikan perspektif dan perbedaan cara pandang dalam melihat dunia. Ada rasa dalam bahasa. Bagi yang pernah belajar bahasa arab ada istilah dzawq arabi. Karena pada dasarnya bahasa memiliki pemaknaan yang berbeda.

Seperti dalam kasus kekayaan bahasa tradisional diatas setiap bahasa memiliki konotasi yang berbeda dan kekayaan makna. Maka sebetulnya sinonim antara satu kata dengan kata yang lain sejatinya ada konotasi yang berbeda.

Ini juga yang membuat misalkan para penerjemah bahasa seringkali tidak menerjemahkan bahasa dengan hanya mengganti dengan padanan kata. Bagi para penerjemah ada pomeo yang umum mengatakan bahwa menerjemahkan bukan mengubah bahasa tapi mentransfer makna.

Penguasaan terhadap bahasa baru akan memperkaya kita dalam melihat dan mempersepsi dunia.

Keuntungan Multilingual Terhadap Kinerja Otak

Selain memberi akses untuk bisa memahami dan mengerti berbagai budaya, menjadi bilingual atau trilingual juga mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja otak kita. Berbagai penelitian di bidang neurosains telah menemukan berbagai data spesifik efek positif dari mempelajari lebih dari bahasa terhadap kinerja dan performa otak.

Sebagaimana diketahui bahwa secara garis besar otak kita bisa dikategorikan ke dalam dua bagian dari segi cara dan kinerjanya. Otak kiri lebih cenderung logis dan analitis. sementara otak kiri lebih aktif secara emosional dan sosial.

Dalam hal ini mempelajari bahasa melibatkan penggunaan kedua belahan otak kita. Karena bahasa tidak saja memiliki aspek analitis-logis namun juga aspek emosional-sosial. Sehingga secara teori mempelajari bahasa baru akan lebih mengaktifkan kinerja dari kedua belahan otak kita.

Ada satu teori yang disebut dengan Critical Period of Hypothesis. Teori ini menyebutkan bahwa perkembangan otak manusia lebih elastis di masa kecil. Sehingga menurut teori ini mempelajari bahasa baru akan lebih muda jika dilakukan pada usia dini. Karena pada masa ini belahan otak masih berkembang secara maksimal.

Ini juga terkait dengan faktor usia dan kematangan. Maka tidak heran bagi orang dewasa mempelajari bahasa baru tentu lebih sulit dibanding bagi anak-anak. Anak-anak dengan perkembangan otak yang masih elastis mampu mempelajari bahasa secara analitis dan emosional. Sementara bagi orang dewasa bahasa lebih banyak diproses oleh otak kiri dengan analisa dan logika.

Baca juga  5 Kelompok Perlengkapan bayi baru lahir Yang Penting Dipersiapkan

Sehingga berdasar teori ini, mempelajari bahasa baru sejak kecil akan memberikan kemampuan emosional dan logis yang lebih baik bagi sang anak. Meski begitu, bagi orang dewasa mempelajari bahasa baru juga membuat seseorang berpikir lebih objektif dan tidak bias emosi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mempelajari bahasa baru akan memberi dampak baik secara fisik. Mereka yang mempelajari bahasa memiliki jaringan sinaps yang lebih rapat dengan jaringan neuron lebih kuat ditandai dengan area abu-abu yang lebih merata.

Penelitian juga menunjukkan bahwa bagian otak terlihat lebih aktif saat ada rangsangan dengan menggunakan bahasa kedua. Bahkan dalam jangka panjang efek positifnya adalah mengurangi risiko kerusakan otak seperti dementia dan alzheimer hingga 5 tahun.

Berbagai penelitian terbaru tersebut memang berbeda dengan anggapan para ilmuwan di masa lalu. Pada tahun 60-an memiliki kemampuan dua bahasa (bilingualisme) dianggap sebuah gangguan. Waktu itu, para ilmuwan masih menganggap anak yang dipaksa untuk berbicara dengan dua bahasa atau lebih menjadi berpikir lambat dan kesulitan untuk berbicara.

Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa berbicara lebih dari satu bahasa justru memperkuat dorsal lateral preforntal cortex. Ini adalah bagian otak yang berfungsi untuk melakukan fungsi eksekusi seperti melakukan analisa masalah, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Sehingga pengetahuan di masa kini justru menganjurkan bahwa bahasa baru akan membantu menjaga agar tetap bisa berpikir fokus hingga dan mampu memfilter informasi yang tidak relevan.

Masih Ragukah Mengajarkan Bahasa Lain?

Meskipun multilingual tidak mesti membuat seseorang lebih pintar, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa mempelajari bahasa baru membuat otak lebih sehat, lebih kompleks dan lebih aktif.

Kalo sudah tahu seperti itu masih ragu mengajarkan bahasa daerah, bahasa Inggris, Arab atau bahasa lain kepada anak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *