Sampah oh Sampah

Kali ini saya ingin membahas mengenai sampah, ada 2 kejadian menarik berkaitan sampah di rumah saya yang ingin saya ceritakan. Pertama, pagi ini saya mendapatkan pesan sayang dari bu RT mengenai sedekat jelantah yang dilaksanakan di lingkungan tempat saya tinggal karena jerigen jelantah bagian RT kami sudah penuh sedangkan belum ada jadwal pengangkutan. Berhubung saya yang kebagian urus-urus sedekah sampah (bank sampah) dan sedekah jelantah di RT jadi saya harus menghubungi koordinator bank sampah RW dan ternyata kami harus menunggu jerigen RT lain penuh baru bisa diangkut.

Kedua, dua hari terakhir ini si kembar makan snack berkemasan dan biasanya saya bertugas membukakan setelah itu mereka makan sendiri, tapi yang menarik adalah beda dengan kakaknya dulu di usia yang sama mudeng buang sampah ke tempat sampah, yang dua ini simpan kemasan bekas dimana saja. Habis makan selesai urusan. Duh!. Tapi memang kali ini di rumah kami belum menyiapkan tempat sampah kecil di tengah rumah agar lebih memudahkan itu dua anak untuk buang sampah bekas ngemil.

Baca juga  Proyek 30 Hari

Saya sebenarnya tertarik dengan urusan persampahan ini sejak lama, bapak saya berternak cacing dimana pakan cacing salah satunya adalah sampah organik seperti sisa sayuran, sisa makanan dan kawan-kawannya. Kami berkeliling restoran sekitar untuk mencari sampah sisa makanan atau bahan makanan tak terpakai yang selanjutnya diproses menjadi pakan cacing. Selain itu, ketika bapak saya membuat aksesoris bebahan dasar resin, beliau sering mengumpulkan bekas gelas air mineral atau botol plastik utnuk tempat campuran resin sebelum dicetak. Belum lagi jaman dulu itu kita sering membuat tempat pensil dari kaleng bekas, dus bekas beda lagi manfaat nya dari mulai jadi ganjal lemari hingga dibuat map holder. Kalau dulu istilahnya adalah daur ulang, sekarang disebut recycle dan upcycle.

Tapi akhir-akhir ini yang sering saya pikirkan dan sayangkan adalah dimana masyarakat kita tidak terbiasa buang sampah ke tempat sampah. Tidak usah dulu terlalu jauh membahas memilah sampah dan gerakan zero waste. Saya termasuk yang berpendapat bahwa pendidikan merupakan solusi berbagai masalah di masyarakat. Pendidikan tidak hanya di bangku sekolah tapi juga di rumah. Pendidikan itu tidak hanya menghapal pelajaran atau belajar calistung tetapi juga membangun kebiasaan. Menumbuhkan kesadaran dan membentuk sebuah perilaku itu membutuhkan proses panjang. Perilaku baik yang dibiasakan sejak kecil hingga besar akan bertahan lama bahkan menjadi sebuah karakter dari individu.

Baca juga  4 Jurus Mengatasi Anak yang Susah Makan

Berdasarkan pengalaman saya dan juga melihat anak saya, Ketika di sekolah kita diajarkan membuang sampah ke tempatnya. Premis ini tentu ambigu direspon diotak kita karena tempatnya belum berarti tempat sampah yang dimaksudkan. Ketika melihat tumpukan sampah di pinggir jalan, pojokan halte atau kebun orang, kita, secara sadar atau tidak, menganggap itu sebagai tempat sampah. Kita tidak merasa berdosa pula ikut buang sampah disitu.

Ketika saya mengajarkan anak-anak untuk buang sampah ke tempat sampah dan di sekolah mereka juga hal yang sama tetapi ketika kita jalan ke tempat umum ternyata tidak ada tempat sampah, mereka bingung. Pengalaman saya ketika keluarga kami berkunjung ke salah satu landmark di Jakarta, anak pertama saya sampai muter-muter cari tempat sampah dan dia tanya kenapa sampah berserakan di pinggir gedung yang katanya bersejarah. Banyak orang sepertinya enggan untuk membawa sampah mereka atau berjalan agak jauh sampai menemukan tempat sampah. Akhinya, mantra terakhir saya pada anak saya adalah biarkan saja orang lain begitu yang penting kita tidak ikutan buang sampah sembarangan. (dyh)

Baca juga  Perlengkapan Bayi Baru Lahir

 

#hari1

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *