Mengenal Lebih Jauh Autisme pada Anak

Anak dengan autisme seringkali dikenal sebagai anak yang mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan dianggap “aneh”. “Autis” seringkali digunakan sebagai ejekan pada anak yang dianggap tidak dapat diajak berkomunikasi atau memilih untuk tidak berkomunikasi dengan teman-teman sekitarnya.

Tapi apakah sebenarnya yang dimaksud dengan autism itu? Bagaimana orang tua dapat dengan baik mengasuh anak dengan autisme?

Autisme merupakan kondisi kompleks perkembangan otak yang menyebabkan individu kesulitan dalam berkomunikasi, berperilaku tertentu dan membatasi minat individu dengan autisme tersebut.

Belum ada penelitian yang secara jelas mendeskripsikan penyebab autisme. Beberapa dari mereka juga kesulitan untuk memahami gestur dan ekspresi orang lain. Sensitivitas terhadap suara, bau dan aroma, sentuhan dan pemandangan tertentu yang ada di lingkungannya.

Beberapa individu dengan autisme juga mempunyai dan mengulangi gerakan repetatif, seperti tepuk tangan dan berjalan tanpa berhenti. Menurut data WHO, satu dari 160 anak di seluruh dunia merupakan anak dengan autisme. 

Gejala autisme pada anak dapat muncul sejak tiga tahun pertama. Autisme lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan, namun anak-anak dari berbagai latar belakang dapat kemudian didiagnosis dengan autisme.

Baca juga  4 Jurus Mengatasi Anak yang Susah Makan

Salah satu gejala yang dapat langsung diamati oleh orang tua adalah masalah komunikasi, seperti tidak adanya jawaban saat orang lain memanggil nama anak walaupun anak tersebut tidak mempunyai gangguan pendengaran, kesulitan mengekspresikan emosi dan mengenali emosi orang lain dengan cara yang umumnya dipahami, sering mengulangi kata (echolalia), sering menghindari kontak mata dan komunikasi dengan orang lain dan menghindari komunikasi dengan orang lain.

Hal lain yang dapat diamati oleh orang tua adalah masalah perilaku, seperti sensitivitas terhadap cahaya, suara atau sentuhan, walaupun tidak merespon dengan rasa sakit, rutin dengan aktivitas tertentu dan sulit menerima perubahan, dan melakukan gerakan repetitif.

Ada beberapa mitos mengenai autisme yang dianggap tidak benar. Salah satunya adalah semua individu dengan autisme mempunyai kemampuan “istimewa” seperti matematika atau kemampuan seni seperti melukis.

Mayoritas individu dengan autisme mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam hal yang berhubungan dengan minat istimewa mereka, yang umum disebut sebagai “splinter skills”.

Baca juga  Doa Pernikahan Yang Baik

Mitos lainnya yang banyak berkembang adalah pemahaman bahwa autisme dapat “disembuhkan”. Orang tua dan pendidik dapat memberikan intervensi lebih awal dengan memberikan cara belajar yang sesuai dengan keadaan individu tersebut.

Seringkali orangtua merasa bingung bagaimana mengasuh anak dengan autisme. Salah satu caranya adalah menggunakan cara komunikasi yang baik. Menggunakan nama anak secara jelas, menggunakan kalimat yang sederhana dan mengurangi sumber stimulan yang dapat mengganggu anak seperti suara atau aroma tertentu.

Orang tua juga perlu untuk memberikan waktu untuk diri mereka sendiri karena banyak orang tua yang kemudia merasa terbebani. Mencari kelompok dukungan untuk orang tua dan anak juga dapat membantu orang tua mengasuh anak dengan autisme, termasuk menghadapi kegiatan sehari-hari dan mencari tempat dan jalur pendidikan yang sesuai untuk anak.

Fokus pada hal yang positif juga membantu orang tua untuk memberikan pengasuhan yang baik. Orang tua juga bias mempunyai rutinitas dan mengajak anak dalam kegiatan sehari-hari.

Source

https://www.alodokter.com/autisme

http://www.autism.org.sg/living-with-autism/myths-and-facts-of-autism

https://www.nhs.uk/conditions/autism/

Baca juga  Yuk, Bantu Anak Belajar Membaca!

https://www.webmd.com/brain/autism/understanding-autism-basics#1

https://www.webmd.com/brain/autism/parenting-child-with-autism#1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *