Ibu Rumah Tangga yang Produktif

Satu waktu saya mendengar cerita teman sesama stay-at-home mom yang merasa hidupnya tidak produktif karena sudah tidak bekerja lagi atau hanya di rumah kemudian masih sempat tidur siang.

Komentar saya saat itu adalah untuk menghilangkan rasa bersalah karena bisa tidur siang yang jelas merupakan kegiatan penting sebagai proses isi ulang (re-charge) energi kita di sisa hari selanjutnya.

Penyataan ini membuat saya ingin membahas tentang produktivitas para ibu di rumah. Namun sebelum membahas bagaimana cara agar produktif sebagai ibu di rumah, kita harus pahami terlebih dahulu bahwa jam kerja ibu di rumah tidak sama dengan ibu yang bekerja di luar rumah.

Indikator atau ciri selesainya pekerjaan pun relatif bahkan seringkali tidak ada kata selesai. Jam kerja ibu di rumah bukan 9 to 5 melainkan 24/7 siap siaga selalu.

Sehingga ritme kerja yang dimiliki tentu saja berbeda dan membutuhkan strategi pembagian tenaga dan pikiran yang efektif dan efisien.

Dua Strategi

Selanjutnya, kita akan membahas dua strategi yang bisa digunakan dalam mengakali atau menyiasati pekerjaan rumah agar terasa bisa lebih efektif dan efisien

Baca juga  5 Resep Obat Batuk Tradisional untuk Bayi

1. Prinsip “One Thing”

Sebagai ibu di rumah biasanya kita sudah memiliki rutinitas tertentu yang berurutan sejak kita bangun tidur hingga akhir hari ketika akan tidur lagi.

Jika belum, kita bisa mulai membangun rutinitas tersebut. Mulai dari beberes rumah, memasak, mengurus si kecil, menemani anak bermain dan lain sebagainya.

Prinsip One Thing ini dapat dipraktekan saat kita akan melakukan aktivitas yang cukup besar dan berat, butuh tenaga atau pikiran penuh.

Misalkan setrika baju, maka kita sebut hari tersebut hari setrika serumah. Kita bisa menyebut atau me-label-i hari-hari tersebut, seperti hari beberes, hari menyuci atau hari memasak.

Kata kuncinya adalah tuntas atau selesai. Selama satu hari tersebut, kita fokus melakukan satu hal itu hingga selesai bahkan jika selesai hingga malam hari.

Pada saat pekerjaan atau aktivitas ini selesai, kita bisa memberikan tubuh atau pikiran kita untuk istirahat. Tugas harian yang lain bisa menunggu atau ditunda dulu.

2. The Block Schedule System

Saya mencoba cara ini setelah menonton vlog dan membaca blog Jordan Page dari funcheaporfree.com soal block schedule system.

Baca juga  Stay-At-Home Mom

Kita dapat membagi waktu kita dalam sebuah blok jadwal seperti jadwal harian sekolah. Disarankan setiap blok memiliki jenjang waktu 2-3 jam.

Misal kita bangun tidur jam 3, maka dari jam 3 hingga 6, disebut blok pagi dan kegiatannya meliputi beres- beres rumah, cuci piring, menyiapkan bekal sekolah dan sebagainya. Kemudian 3 jam selanjutnya diberi nama berbeda, begitu seterusnya.

Triknya adalah memasang alarm setiap blok jadwal untuk memberitahu waktunya pindah blok. Apabila waktu sudah habis tetapi pekerjaan belum selesai, dilewat saja karena kita bisa mengerjakannya di blok selanjutnya atau ditunda. Untuk lebih jelasnya dapat di cek di link yang saya sertakan di atas.

Kelebihan blok ini adalah kita dapat membagi energi kita untuk mengerjakan banyak hal tanpa merasa kewalahan karena terstruktur dan terjadwal. Kata kunci yang dipakai adalah dicicil.

Hanya saja yang harus dijadikan catatan adalah kita harus meluangkan waktu bagi kita sendiri 1 atau 2 jam untuk istirahat karena cara ini high-demand apalagi jika kita membuat jadwal penuh di setiap block- nya.

Baca juga  Sharing Menanamkan Kebiasaan Pada Anak

Pengalaman Saya

Berdasarkan pengalaman saya, kedua cara tersebut dapat dikombinasikan penggunaannya. Misalkan hari ini pakai konsep one thing, besok pakai konsep block schedule.

Atau mungkin untuk beberapa orang lebih nyaman menggunakan konsep one thing saja atau sistem block saja. Kita bisa berimprovisasi setiap harinya disesuaikan dengan target produktifitas yang ingin kita capai.

Hanya saja ada catatan kecil dari saya bahwa ketika banyak rencana dalam jadwal kita tidak berjalan atau gagal, kita tidak usah kecewa. Karena kita sudah melakukan banyak hal, setidaknya kita sudah berusaha merencanakannya.

Menjadi ibu di rumah itu berarti belajar menjadi tidak sempurna sehingga kita membuat ruang untuk memaafkan diri kita sendiri dan menghargai setiap hal yang telah kita lakukan setiap harinya. (dyh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *