Anak Kita, antara di rumah dan di luar..

Awalnya saya ingin bercerita kembali tentang sampah. Tetapi bercerita tentang anak ternyata lebih menarik. Akhir-akhir ini berhubung sekolah ditutup dan harus belajar dari rumah, si kakak menunjukkan kemanjaan dan drama luar biasa. Entah itu karena jenuh atau iri melihat adiknya yang katanya lebih diperhatikan. Si kakak seringkali mengimitasi drama adiknya, nangis-nangis saat disuruh sesuatu yang dia tidak mau lakukan, protes sana-sini bahkan drama panjang saat disuruh makan atau mandi. Negosiasi panjang untuk mandi dan presentasi gizi untuk makan. Belum lagi si kembar yang banyak aksi, mereka tidak ragu ketika menantang si kakak untuk bergulat. Pergulatan tiga anak laki-laki beda usia 6 tahun tidak bisa terelakkan. Ramai sekali rumah saya rasanya.

Satu kali saya bertemu tetangga, singkat cerita, kami bahas soal si kakak dan ternyata saya dapat cerita lain dari tetangga. Mereka bilang kalau si kakak itu baik, ramah dan ngemong temannya yang lebih muda. Lain waktu saya ambil raport ke sekolah dan dapat cerita baru dari guru kelas kalua si kakak ini termasuk well-behave hanya kurang fokus. Beda tempat beda versi si kakak ini. Di mata saya, si kakak ini adalah anak yang manja, ngeyel, jail, keras kepala, tidak mau mengalah tapi juga bisa manis, helpful, passionate dan kreatif serta banyak sekali akalnya. Ternyata si kakak ini tidak seperti itu di mata orang lain.

Baca juga  Membantu Perkembangan Anak Pintar

Itu cerita di rumah saya. Beda lagi di rumah lain. Banyak saya mendengar ketika orang tua konsultasi dengan guru sekolah, si anak berperilaku tidak seperti saat di rumah bahkan jadi sosok yang sangat berbeda. Atau ketika bermain di lingkungan sekitar dan bergabung dengan teman-temannya si anak menjadi sosok yang berbeda lagi. Sering kali saya mendengar kalimat “Anak saya tidak seperti itu kalau di rumah.” atau “Saya tidak mengajarinya begitu.” atau lagi “Masa sih? Sama saya dia baik-baik saja kok kalau di rumah.” meluncur dari mulut para orang tua.

Yang harus kita sadari adalah ternyata anak itu menunjukkan lapisan dan dimensi yang berbeda di tiap kondisi dan lingkungan yang berbeda. Banyak faktor yang mempengaruhi, bisa jadi rasa aman dan nyaman, kondisi khusus seperti membela diri atau harus berperan sebagai pemimpin, situasi santai ketika berkumpul dengan teman. Mereka akan menunjukkan sikap dan perilaku berbeda di situasi dan kondisi yang berbeda. Hal ini sebenarnya alamiah dan sesuai naluri manusia karena berkaitan dengan kemampuan adaptasi manusia dengan lingkungannya untuk bertahan hidup.

Baca juga  Permainan Tradisional Bagi Anak-Anak

Salah satu tugas orang tua yang cukup menantang itu adalah mengenali berbagai wajah, sisi dan dimensi anak. Berkenalan dengan sosok yang penah kita kandung selama 9 bulan itu ternyata tidak semudah baca buku fiksi favorit. Butuh proses observasi, wawancara, interaksi yang cukup panjang dan lama. Dinamikanya juga terus berubah seiring si anak bertambah usia dan bertambah luas lingkungan pergaulannya. Berdasarkan pengalaman saya, semua teknik observasi sudah dikerahkan, baca buku teori perkembangan juga sudah dibolak-balik belum lagi buku populer soal parenting jadi bagian koleksi. Tapi si anak ini belum seratus persen saya kenali. Teori dan praktek itu selalu ada gap atau kesenjangan. Akhirnya seringkali saya dan suami berimprovisasi ketika berkenalan dengan tiap anak kami, bahkan anak kembar lebih rumit lagi.

Proses yang cukup berat adalah menerima kelebihan dan kekurangan anak. Seringkali kita terbuka dengan kelebihan anak tapi denial atau menolak kekurangan anak. Kata berlapang dada cocok sekali dipraktekkan disini. Saya dan suami melihat dan menilai si anak dari perspektif yang berbeda. Saya cenderung melihat sisi negatif atau kekurangan si anak tetapi suami cenderung melihat sisi positif atau kelebihan si anak. Kami sering mengobrol berbagi cerita dan penilaian sehingga dapat gambaran yang lebih lengkap. Saya pun belajar menerima dengan tenang  penilaian tentang anak saya yang datang dari luar, saya anggap itu sebagai kepingan puzzle yang terlewat untuk menyempurnakan gambaran utuh anak saya.

Baca juga  Doa Pernikahan Yang Perlu Anda Tahu

Itu anak saya dengan kelebihan dan kekurangannya, mereka siap dikenali tinggal saya mau membuka diri untuk berkenalan. Saya juga belajar menerima berbagai kekurangan dan kelebihan mereka. Toh, saya juga masih belajar jadi orang tua.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *