4 Hal Penting Soal Mahar Pernikahan Yang Ideal

Mahar atau mas kawin adalah suatu pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak wanita, yang merupakan salah satu syarat sah dalam sebuah pernikahan atau perkawinan.

Mahar adalah suatu tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita, sebagai bentuk rasa cinta dan ketulusannya untuk memuliakan pasangannya.

Sebagaimana Firman Allah SWT:

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 4)

Akan tetapi dalam kehidupan masyarakat saat ini, terdapat bukti nyata bahwa terkadang mahar menjadi kendala tersendiri dari terselenggaranya pernikahan.

Permintaan mahar yang terlalu mahal dari pihak wanita menjadikan pernikahan tersebut tertunda atau bahkan gagal untuk dapat terlaksana.

Pelaksanaan pernikahan di Indonesia masih besar pengaruhnya dengan adanya tradisi adat dan kebiasaan masyarakat sekitar.

Salah satunya pemberian mahar yang menyesuaikan dengan kondisi strata keluarga, pendidikan, pekerjaan, hingga kecantikan dari seorang wanita yang akan dinikahinya.

Beberapa daerah di Indonesia yang dikenal memiliki biaya mahar yang mahal diantaranya, yaitu Sumatera Selatan dengan istilahnya Jojo, Sumatera Utara dengan sebutan Sinamot, daerah Aceh yang biasa disebut Mayam, Nias dengan istilah Bowo, dan daerah Bugis dengan uang Panai.

Sedangkan di dalam aturan Islam, beberapa riwayat dari hadits Rasulullah SAW telah dapat disimpulkan bahwa mahar harus berazaskan pada kesederhanaan dan kemudahan.

Sebagaimana yang telah Rasullullah SAW sabdakan, yaitu: ‘‘Sebaik-baik wanita ialah yang paling ringan maharnya.’’ (HR. Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi).

Selain itu, hal tersebut juga telah tertuang di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) perundangan di Indonesia bab ke-5 pasal 30-38.

Seperti apa mahar yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada isterinya, sebagaimana telah diriwayatkan dalam Hadits-hadits sahih.

Abu Salamah telah menceritakan, “Aku pernah bertanya pada Aisyah RA, “Berapa mahar Nabi SAW untuk para istrinya?” Aisyah menjawab, “Mahar beliau SAW untuk istri-istrinya ialah sebanyak 12 uqiyah dan satu nasy.”

Kemudian Aisyah bertanya, “Tahukah kamu berapa satu uqiyah itu?” Aku menjawab, “Tidak.” Aisyah pun menjawab, “Empat puluh dirham.” ‘Aisyah bertanya, “Tahukah kamu berapa satu nasy itu?” Aku menjawab, “Tidak.” ‘Aisyah kemudian menjawab, “Dua puluh dirham”. (HR. Muslim).

Umar bin Khattab mengatakan, “Aku tidak pernah mengetahui bahwa Rasulullah SAW menikahi seorang juga dari istrinya dengan mahar yang kurang dari 12 uqiyah.” (HR. Tirmidzi).

Mahar pernikahan yang ideal menurut Islam memiliki beberapa syarat, diantaranya:

  1. Harta berharga, tidak sah mahar dengan yang tidak berharga walaupun tidak ada ketentuan banyak atau sedikitnya mahar. Mahar sedikit, tapi bernilai tetap sah disebut mahar.
  2. Barangnya suci dan bisa diambil manfaat. Tidak sah mahar dengan memberikan khamar, babi, atau darah, karena semua itu haram dan tidak berharga.
  3. Barangnya bukan barang ghasab. Ghasab artinya mengambil barang milik orang lain tanpa seizinnya, namun tidak bermaksud untuk memilikinya karena berniat untuk mengembalikannya kelak. Memberikan mahar dengan barang hasil ghasab tidak sah, tetapi akadnya tetap sah.
  4. Bukan barang yang tidak jelas keadaannya. Tidak sah mahar dengan memberikan barang yang tidak jelas keadaannya, atau tidak disebutkan jenisnya.

Cara menentukan mahar pernikahan yang ideal diutamakan sesuai dengan syarat mahar, dan juga dinyatakan bahwa tidak ada batasan maksimal bagi seorang laki-laki dalam memberikan mahar.

Laki-laki boleh memberikan jumlah yang sangat besar atau lebih besar lagi. Bagi orang yang memiliki kelapangan rejeki, kemudian ia bermaksud memberikan mahar dalam jumlah yang sangat besar, maka tidak mengapa dan boleh-boleh saja sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, yaitu:

“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS. An Nisa: 20).

Sedangkan bagi mereka yang tidak cukup lapang dalam memberikan mahar dalam jumlah banyak, maka berapa saja jumlahnya selama itu berupa harta atau sesuatu yang lain yang disamakan dengan harta dan disetujui serta direlakan oleh calon mempelai wanita, maka hal demikian diperbolehkan.

Baca juga  Penting!! Empat Dampak Negatif Gadget Pada Anak

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *